" Malam ini mau makan apa?"
Sembari tidur-tiduran di kamar seluas 3x3 meter ini, aku membaca sekilas pesan dari mu. Aku mencerna pertanyaannya yang tidak tepat. Ini jam 8 malam, dia bertanya aku mau makan apa. Basa basi macam apa itu?
"udah makan tadi..", tidak sampai 180 detik aku membalasnya dengan singkat.
Tapi aku sudah tahu arah pembicaraan mu. Dia pasti mau mengajakku keluar. Jam 8 malam, belum terlalu malam untuk ngemil sesuatu. Bayangan sebuah donat
melayang-layang tepat didepan mataku. Aku memejamkan sesaat untuk mempertajam
khayalan, dan menelan ludah.
"Atau mau apa gitu..", sms mu kemudian...
"J-co, J-co-an seru kali ya", secepat angin aku membalas sambil senyum-senyum
"Kebetulan, aku juga lagi pengen
ngopi", balasnya.. Aku mulai tertawa, pria
ini tidak mahir berbasa basi pikirku."aku jalan sekarang ya, kira-kira
setengah jam lagi aku sampai di rumah " balas mu.
*****
Matanya Yang selalu fokus saat
berbicara denganku..dan selalu tersenyum saat aku bicara...Apa yang salah? Apakah wajahku aneh? Atau
mulut ku tampak berantakan sehabis makan donat bertabur gula putih. Suaranyapun
pelan, dengan deretan gingsul lucu menghiasi giginya yang tidak rata. Kalau
satu gingsul saja orang-orang bisa bilang manis, bagaimana jika 4 gingsul?
Manis sekalikah??? Menurutku lebih tepat dia menyeringai..hehe. Apalagi matanya
yang tajam dan alis mata yang menyerupai Sinchan, tebal bak ulat bulu kelebihan
bulu. Badannya yang tegap, proposional dengan balutan pakaian casual. Pria
biasa saja, dan menyeramkan jika dia tertawa.
*****
"Ada tiga hal yang aku
utamain dalam hidupku",ucapmu kala itu. Akupun tak bisa menghilangkan
senyum bahagia, karena aku yakin namaku yang akan disebutnya. Aku bahkan sudah
hafal urutan prioritas pria dalam hidup. Keluarga, teman-teman, pasangan. Atau
bisa dibalik menjadi keluarga, pasangan, teman-teman. Aku menekan keras
jantungku supaya tidak loncat keluar.
"Oyaaa, apa saja?", kamupun melanjutkan dengan jawaban yang membuatku
benar-benar ingin menekan keras dan menembus untuk mengeluarkan jantungku
dengan sengaja. Atau kalau bisa, aku ingin menjadi tuli sesaat. "Pertama
keluarga..", dan senyum menghias bibir penuhku. "Kedua,
Liverpool"", hah.. Alisku pun bertautan. Liverpool... Oh
oke, aku mau maklum. Karena club ini yang mempertemukan aku dengannya. Tak sengaja disaat mereka
nongkrong dengan para pengurus komunitas Bigreds. Para pecinta Club Liverpool
dari Inggris. Sang Polisi ini juga yang memberikan tiket gratis nonton
pertandingan teranyar Liverpool vs Indonesia kepadaku. Oke banyak jasamu
Liverpool…!!!
"Terus, yang ketiga apa?", aku tak sabar ingin tahu jawabannya, karena aku berharap
bahwa jawaban 'pasangan' yang akan terlontar. Tapi disaat bersamaan, aku takut
mendengarkan. "Persija!", jawabmu mantap. Akupun ingin mencari
dinding untuk kubenturkan dengan kepalaku.
*****
Aku pusing mendengarkan jawaban itu.. "Keluarga,
Liverpool, dan Persija". Jawaban macam apa itu? Aku bertanya, posisi
aku ada dimana? Didalam hatinyakah? Dipikirannya kah? Sisi egois sebagai wanita
bungsu aku bermunculan. Aku yang terbiasa di manja, di penuhi, kini dibolak-balikkan oleh seorang anggota polisi markas
besar berpangkat Perwira.
Tapi logikaku pun bermain, mengingat satu pernyataan keras
darinya..
"Disaat harinya, pasanganku akan
menjadi keluarga. Dan ia menjadi prioritas dalam hidupku", ujarmu kemudian sambil tersenyum padaku penuh arti...
sekarang aku yang bertambah pusing.
Pernyataan itu tidak salah. Benar
adanya. Dia bilang aku wanita terakirnya, Tapi
aku ingin membela diri. Aku tidak salah juga untuk sesekali minta diprioritaskan. Tapi
apapun itu, kesalahan-kesalahan yang dicari tidak membuahkan sebuah solusi. Aku
memutuskan meninggalkan dia, bukan karena urutan prioritas. Bukan juga karena
orang ketiga keempat kelima. Dia
ingin aku berhenti bekerja sedang aku ingin terus berkarya.. dia ingin aku dirumah saja menjadi ibu rumah tangga mendampinginya. Sebenarnya tidak buruk juga hanya aku punya alasan tersendiri saat ini. Komunikasi kami akhir nya memburuk. Dan tak ada satupun dari kami berdua yang ingin memperbaiki.
*****
Beberapa bulan berlalu. Aku sibuk
dengan orang baru, begitupun dirinya. Sesekali kita bertemu, mengobrol tentang
hidup. Aku mengenang kebaikan yang telah dilakukan. Sang Polisi ini tidak
pernah marah. Lama-lama gingsul menyeringainya tampak manis dan lucu. Kadang
ingin kutarik satu untuk ku pajang. Karena ia terlalu serakah atas gigi. Ia
yang menyemangatiku mengelilingi lapangan GOR saburai setiap minggu pagi, dan
aku yang dengan mudah teralihkan oleh lontong sayur, ketoprak, dan tempe
mendoan. Jalan-jalan ke taman safari, monas, hingga Wakatobi jadi
rencana-rencana yang menghiasi obrolan kami. Tapi semua hanya draft.
