Minggu, 16 Maret 2014

SANG PERWIRA POLISI



15 Maret 2014.. at..20.05 PM


" Malam ini mau makan apa?"

Sembari tidur-tiduran di kamar seluas 3x3 meter ini, aku membaca sekilas pesan dari mu.  Aku mencerna pertanyaannya yang tidak tepat. Ini jam 8 malam, dia bertanya aku mau makan apa. Basa basi macam apa itu?

"udah makan tadi..", tidak sampai 180 detik aku membalasnya dengan singkat. Tapi aku sudah tahu arah pembicaraan mu. Dia pasti mau mengajakku keluar. Jam 8 malam, belum terlalu malam untuk ngemil sesuatu. Bayangan sebuah donat melayang-layang tepat didepan mataku. Aku memejamkan sesaat untuk mempertajam khayalan, dan menelan ludah.

"Atau mau apa gitu..", sms mu kemudian...

"J-co, J-co-an seru kali y
a", secepat angin aku membalas sambil senyum-senyum

"Kebetulan, aku juga lagi pengen ngopi", balasnya.. Aku mulai tertawa, pria ini tidak mahir berbasa basi pikirku."aku jalan sekarang ya, kira-kira setengah jam lagi aku sampai di rumah " balas mu.

*****
Matanya Yang selalu fokus saat berbicara denganku..dan selalu tersenyum saat aku bicara...Apa yang salah? Apakah wajahku aneh? Atau mulut ku tampak berantakan sehabis makan donat bertabur gula putih. Suaranyapun pelan, dengan deretan gingsul lucu menghiasi giginya yang tidak rata. Kalau satu gingsul saja orang-orang bisa bilang manis, bagaimana jika 4 gingsul? Manis sekalikah??? Menurutku lebih tepat dia menyeringai..hehe.  Apalagi matanya yang tajam dan alis mata yang menyerupai Sinchan, tebal bak ulat bulu kelebihan bulu. Badannya yang tegap, proposional dengan balutan pakaian casual. Pria biasa saja, dan menyeramkan jika dia tertawa.

*****
 "Ada tiga hal yang aku utamain dalam hidupku",ucapmu kala itu. Akupun tak bisa menghilangkan senyum bahagia, karena aku yakin namaku yang akan disebutnya. Aku bahkan sudah hafal urutan prioritas pria dalam hidup. Keluarga, teman-teman, pasangan. Atau bisa dibalik menjadi keluarga, pasangan, teman-teman. Aku menekan keras jantungku supaya tidak loncat keluar. 

"Oyaaa, apa saja?", kamupun melanjutkan dengan jawaban yang membuatku benar-benar ingin menekan keras dan menembus untuk mengeluarkan jantungku dengan sengaja. Atau kalau bisa, aku ingin menjadi tuli sesaat. "Pertama keluarga..", dan senyum menghias bibir penuhku. "Kedua, Liverpool"", hah.. Alisku pun bertautan. Liverpool... Oh oke, aku mau maklum. Karena club ini yang mempertemukan aku dengannya. Tak sengaja disaat mereka nongkrong dengan para pengurus komunitas Bigreds. Para pecinta Club Liverpool dari Inggris. Sang Polisi ini juga yang memberikan tiket gratis nonton pertandingan teranyar Liverpool vs Indonesia kepadaku. Oke banyak jasamu Liverpool…!!!

"Terus, yang ketiga apa?", aku tak sabar ingin tahu jawabannya, karena aku berharap bahwa jawaban 'pasangan' yang akan terlontar. Tapi disaat bersamaan, aku takut mendengarkan. "Persija!", jawabmu mantap. Akupun ingin mencari dinding untuk kubenturkan dengan kepalaku.

*****
Aku pusing mendengarkan jawaban itu.. "Keluarga, Liverpool, dan Persija". Jawaban macam apa itu? Aku bertanya, posisi aku ada dimana? Didalam hatinyakah? Dipikirannya kah? Sisi egois sebagai wanita bungsu aku bermunculan. Aku yang terbiasa di manja, di penuhi, kini dibolak-balikkan oleh seorang anggota polisi markas besar berpangkat Perwira.

Tapi logikaku pun bermain, mengingat satu pernyataan keras darinya..

"Disaat harinya, pasanganku akan menjadi keluarga. Dan ia menjadi prioritas dalam hidupku", ujarmu kemudian sambil tersenyum padaku penuh arti... sekarang aku yang bertambah pusing.

Pernyataan itu tidak salah. Benar adanya.  Dia bilang aku wanita terakirnya, Tapi aku ingin membela diri. Aku tidak salah juga untuk sesekali minta diprioritaskan. Tapi apapun itu, kesalahan-kesalahan yang dicari tidak membuahkan sebuah solusi. Aku memutuskan meninggalkan dia, bukan karena urutan prioritas. Bukan juga karena orang ketiga keempat kelima. Dia ingin aku berhenti bekerja sedang aku ingin terus berkarya.. dia ingin aku dirumah saja menjadi ibu rumah tangga mendampinginya. Sebenarnya tidak buruk juga hanya aku punya alasan tersendiri saat ini. Komunikasi kami akhir nya memburuk. Dan tak ada satupun dari kami berdua yang ingin memperbaiki.

*****
Beberapa bulan berlalu. Aku sibuk dengan orang baru, begitupun dirinya. Sesekali kita bertemu, mengobrol tentang hidup. Aku mengenang kebaikan yang telah dilakukan. Sang Polisi ini tidak pernah marah. Lama-lama gingsul menyeringainya tampak manis dan lucu. Kadang ingin kutarik satu untuk ku pajang. Karena ia terlalu serakah atas gigi. Ia yang menyemangatiku mengelilingi lapangan GOR saburai setiap minggu pagi, dan aku yang dengan mudah teralihkan oleh lontong sayur, ketoprak, dan tempe mendoan. Jalan-jalan ke taman safari, monas, hingga Wakatobi jadi rencana-rencana yang menghiasi obrolan kami. Tapi semua hanya draft.


Aku hanya mengangguk-angguk mencoba mengerti makna. Setiap manusia memiliki fungsi didalam hidup. Ada yang menjadi sebuah pelajaran, menjadi tujuan, hingga hanya berperan sebagai distraksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Your Comment..